Archive for the bedah buku Category

terhalang

Posted in bedah buku, pergolakan batin on Februari 25, 2008 by kikie

“aku berpikir, bahwa harapan tidak bisa dikatakan ada, juga tidak bisa dikatakan tidak ada. ia hanya seperti jalan-jalan yang membelah bumi. karena sebenarnya bumi tidak memiliki jalan-jalan pada mulanya, tapi ketika manusia melewati suatu jalan, sebuah jalan tercipta” – Lu Xun

tembok yang muncul antara jun-tu dan tuan tokoh utama pada cerita itu membuatku ikut merasa pedih. ketika dulu mereka berteman tanpa beban karena belum mengenal perbedaan status, namun kini segalanya harus berubah. seperti yang kemudian terjadi antara ken dan adama, yang menjadi kaku meski mereka menghabiskan tahun ke-17 mereka bersama dalam tahun penuh pemberontakan khas remaja. lalu aku dan sahabat-sahabat lamaku.

sepatutnya perbedaan status tidak memisahkan kedua orang yang bersahabat. tapi kepentingan-kepentingan lain yang dibangun manusia dalam hidupnya tanpa sadar telah membangun tembok-tembok yang kemudian memasung kemanusiaan kita sendiri. status ekonomi. kemapanan. tuntutan moral. tuntutan keluarga yang jadi tanggungan.

pada akhirnya lagi-lagi hidup adalah apa yang terdiri dari berbagai pilihan. untuk jadi jiwa yang bebas pun perlu ada yang dikorbankan. mungkin memang benar bahwa manusia tidak akan lepas dari kepedihan. itu biasa saja. sepatutnya tidak disesali berlarut-larut. tapi sepatutnya juga mengerti ketika ada yang kemudian terluka karena itu. hanya saja juga sebaiknya membiasakan diri. karena itu akan dihadapi sewaktu-waktu kemudian. hidup. proses belajar & berjuang tanpa henti. ketika proses berhenti, kita pun mati. sementara proses lainnya terus berlangsung, dan bumi terus berputar …

Iklan

opportunists are certainly not edible

Posted in bedah buku on Februari 23, 2008 by kikie

dan kini pun kusadari bahwa tertawa adalah caraku untuk mengiyakan sesuatu yang pahit. saat aku membaca kalimat “hukum hanya menjelmaan dari pengebirian pihak mapan kepada kawulanya”, dan tertawa ketika membaca pernyataan “setelah meninggalnya pak dollah, teungku haji abubakar, meunasah kami seperti BEM unsyiah yang dikuasai calon-calon tikus masa depan di NAD”.

sejatinya semacam mereka terkesan sebagai kumpulan orang-orang oportunis. yang certainly not edible, enakan opor ayam masih bisa dimakan & lumayan enak (halah). maafkan aku yang terlalu jujur dan spontan ini. sekadar menanggapi apa yang kulihat dan kurasakan. mungkin akan mengundang somasi dari Dewa Ikan Pepes Cabe Tiga Tapi Busuk. sori deh.

(baru selesai baca buku “antitokoh”, kumpulan tulisan alumnus sekolah menulis Dokarim di Aceh).

keputusan

Posted in bedah buku on Februari 16, 2008 by kikie

saat menulis ini, saya baru saja membaca sebuah buku berjudul “whatever you think, think the opposite” by paul arden. senangnya karena akhirnya buku ini diterjemahkan juga. daripada beli yang versi bahasa inggris yang lebih mahal, hehe. meskipun entah kenapa perilisannya nggak terlalu diekspos di toko-toko buku di sini, nggak kaya’ perilisan novel-novel konspirasi atau pembunuhan yang “nggak biasa”. tema yang lagi in di Indonesia.

buku ini membuat saya berpikir mengenai keputusan-keputusan yang sudah saya ambil dalam hidup saya sejauh ini. sejak awal saya sudah berprinsip untuk membuat keputusan berdasarkan keinginan saya, bukan keinginan orang lain. banyak dari keputusan-keputusan saya itu membuat saya jadi diremehkan orang-orang kemudian. but they have nothing to do with me, so do as you wish la..

bahwa kakek saya berharap saya mengikuti jejak menantunya sebagai dokter, kini saya justru tidak sedang ke arah sana. meski katanya topiknya lumayan deketan. banyak alasan pribadi saya yang melatarbelakangi hal itu, meski seperti anak-anak kebanyakan, waktu kecil pun saya bercita-cita jadi dokter. tapi kemudian banyak hal yang terjadi yang membuat saya akhirnya memilih kuliah di biologi. meski pada awal semester lalu saya sempat cukup down dan merasa telah memilih jalan yang salah … but now I’m glad again, that I’m here. kemudian dalam ruang lingkup studi saya, saya lebih mendalami zoologi yang mungkin memang kalah populer dan tidak sespektakular bioteknologi dan saudara-saudara populernya yang lain. but I chose what I want, and I hope I can do my best there. daripada menjalaninya dengan kurang niat dan nggak bisa dinikmati. pernah sekali saya mengambil sebuah matakuliah pilihan karena bujukan orang lain, dan hasilnya malah mengecewakan. I don’t want it to be happened again, I’ve learnt my lesson.

ketika kamu nggak bahagia atas apa yang kamu lakukan, meskipun kamu melakukannya dengan baik sehingga dihargai, penghargaan dari luar dirimu itu percuma saja. kamu hidup untuk dirimu sendiri. dan mereka yang menuntut apa yang mungkin baik menurut mereka untukmu … nggak selalu dan selamanya mereka akan punya influence dalam hidupmu. sedangkan dirimu sendiri, ialah yang selalu memberi pengaruh dalam hidupmu. so make your own decision yourself.

“bahkan ketika kita ingin berhati-hati dan bermain aman, kita seharusnya berhenti sejenak dan merenungkan apa yang akan kita lewatkan”

ada beberapa keputusan besar lainnya dalam hidup saya yang telah diperbuat, dan cukup berpengaruh dalam hidup saya dan hubungan ke beberapa orang tertentu. bahwa saya memilih untuk nggak ikut macem-macem selama masa sibuk-sibuknya kuliah & praktikum 5 semester kemarin. bahwa orenji bubar. bahwa saya lebih memilih cari pengalaman tambahan sama sekali di luar kampus. dan sebagainya. I thought that it won’t be right if I chose the opposite, meski mungkin orang lain menganggap bahwa lebih baik saya memilih yang berlawanan dengan itu. but… that’s it. I do what I want to do. and they have nothing to do with my life. so I only choose what I think will fit me.

tapi tentunya di balik itu semua juga kita harus siap dengan segala konsekuensi yang bakal kita hadapi.

11 minutes

Posted in bedah buku, pergolakan batin with tags on Februari 11, 2008 by kikie

saat ini gw sedang membaca salah satu buku paling romantis di muka bumi. sampe gw yang ga romantis aja bilang begitu, berarti patut diperhitungkan lho (halah). eleven minutes by paulo coelho. sepertiga awal sih biasa aja. tapi kemudian setelah maria ketemu ralf, isi buku jadi makin mengesankan. halah. tapi buku ini juga membuat gw merasa seperti diterpa badai pecahan es. udah dingin, tajem-tajem lagi. menyayat hati, soalnya keinget kasus sendiri. sehingga otomatis membandingkan dengan yang ada. tapi karena itu juga, di sisi lain, buku ini juga membuat gw merasa lebih kuat.

… kebebasan hanya eksis kalau ada cinta. orang yang memberikan dirinya sepenuhnya, orang yang merasa paling bebas, adalah orang yang mencintai dengan sepenuh hatinya. […] dalam cinta, tak seorang pun bisa menyakiti orang lain; kita masing-masing bertanggung jawab atas perasaan kita sendiri, dan tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang kita rasakan…

sebelum ini, yang ada dalam pikiran gw adalah .. mungkin kita harus mampu untuk ikhlas dulu sebelum meraih kebahagiaan. ikhlas dengan sebagaimanapun kondisi fisik dan pembawaan orang yang mencintai kita. ikhlas dengan perlakuan apapun yang kita terima.

meski hal itu bukan berarti kita pasrah terus disakiti. mungkin lebih ke .. misalnya kita diperlakukan secara Y, dan hal itu membuat kita merasa tersakiti. rasanya memang sakit, dan kita berhak untuk protes. tapi mungkin sebelum protes, sebaiknya kita introspeksi diri dulu. pernahkah kita memperlakukan orang lain seperti itu? utamanya, orang yang kita tahu (meski belum tentu yakin) bahwa dia menyayangi kita. pernah ngga sih? pernah? sekarang ngerasain kan? sakit? mungkin itu pula yang dirasakan orang itu dulu. orang yang menyayangi kita. dari pihak keluarga atau teman.

buku yang penuh idealisme tentang cinta. sayangnya pada prakteknya adalah bahwa entahlah. realita sering ngga akur dengan idealisme. or maybe it’s just me..

mbuh ah!!

mutilator

Posted in bedah buku with tags , , , on Januari 1, 2008 by kikie

howdy.

saat ini sedang membaca “out” by natsuo kirino. cerita yang menegangkan dan bikin rada trauma. soalnya cukup sadis, meski adegan sadisnya ngga sesadis apa yang pernah saya baca di “the wind-up bird chronicle” by haruki murakami (membayangkan orang dikuliti hidup-hidup … aaargh).

cukup menarik ketika membaca analisis detektif imai mengenai keterkaitan perempuan dengan kasus pembunuhan berikut mutilasi. perbandingan yang dia pikirkan mengenai apa yang akan dilakukan perempuan vs laki-laki kalau baru melakukan pembunuhan tak terencana cukup masuk akal. sesuatu yang kemudian mengarah kepada kemungkinan mutilasi yang dilakukan oleh perempuan atas korban laki-laki yang dia bunuh tanpa rencana. ditambah dengan keseharian yang biasa dihadapi ibu rumah tangga, memotong-motong daging untuk makanan keluarganya; yang membuatnya jadi lebih mahir dalam mutilasi dan memahami bagaimana membuang sampah dalam jumlah banyak. ditambah analisis mengenai “kedekatan perempuan dengan segenap proses hidup dan mati” … proses melahirkan, berdarah-darah tiap bulan selama masa subur dan sebagainya. yang membuat sebagian perempuan terbiasa dengan daging dan darah.

ada baiknya hal ini dipikirkan para laki-laki sebelum bertindak kurang ajar terhadap istri dan anak mereka. atau pacar mereka. kasarnya; ga usah macem-macem deh, hahaha.

saya sendiri nggak pernah terpikir untuk membunuh laki-laki manapun yang pernah mampir di relung hati saya (apa sih!!), apalagi memutilasinya. entah bagaimana bisa dilakukan yang seperti itu, terhadap yang kita cintai. bahkan terhadap yang pernah kita cintai. entahlah!! saya memang pernah merasa ingin menampar satu di antara mereka sekeras mungkin, tapi ya cuma sampe situ aja. and most of you guys may have known that we women are pretty good in slapping men that are bastards :D so that may be one predictable form of spontaneous punishment, ne.

tapi saya akui bahwa beberapa kali saya pernah memiliki fantasi mengenai saya menyiksa beberapa orang tertentu yang memang membuat saya merasa menderita dan terpojok. menyiksa dengan sadis, begitu. disiksa dulu sampe dia mohon-mohon buat dibunuh, baru eksekusi. detailnya ga usah disebutin di sini deh, lagian kalo lagi nggak kesel banget juga ngga kebayang gimana prosesnya.

yah .. kesimpulannya, sebetulnya …
1. behave well to anyone around you, especially ones that actually care about you.
2. orang-orang terdekat pun punya potensi untuk mencelakaimu, jadi selalu waspada
3. setiap orang punya sisi gelap, terang dan naif nya masing-masing. itu wajar dan manusiawi. masalahnya mungkin ada pada pilihan terhadap sisi mana yang akan ditonjolkan dan dikembangkan dalam keseluruhan hidup, begitu.

tapi itu semua nggak mutlak sih. cuma “menurut saya” aja.