ternyata kucing beneran

Adalah menyebalkan. Ketika praktikum lapangan, aku mendengar suara kodok, maka sibuk dicari lah suara kodok tersebut. Belakangan diketahui bahwa itu hanya suara ringtone seorang asisten praktikum. Lalu di saat yang lain, di sebuah ruang tunggu terdengar suara anak kucing. Tidak ada anak kucing di sekitar situ. Ternyata lagi-lagi ringtone. Ringtone ponsel milik orang di depanku.

Karena itu semua, aku jadi semakin ragu akan keberadaan sesuatu yang hanya terdengar suaranya saja. Jangan-jangan lagi-lagi cuma manipulasi oleh teknologi tingkat lanjut. Hingga baru saja aku tercengang melihat seekor kucing hasil hubungan gelap kucing persia dengan kucing kampung muncul dari balik pagar setelah terdengar suara meong yang terasa palsu.

“oh, kucing beneran toh?”

Asal jangan di kemudian hari kita cuma bisa dengar suara kucing lewat rekaman saja. Dan lalu meragukan apakah ini suara kucing asli atau sudah diremix.

Contoh yang ekstrim.

Tapi bahkan seorang kawan di kota, ia masih baru lulus SD dulu, tidak tahu-menahu soal bekicot.

Manusia sudah semakin terasing dari alamnya. (Apa sih). Dan kita membangun alam kita sendiri yang membosankan. Kita berusaha menciptakan keteraturan sendiri tanpa belajar dari keteraturan alam. Dan aku pun semakin sering bolos kuliah.

Tapi itu tidak ada hubungannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: