Arsip untuk Maret, 2008

lagi-lagi kenapa

Posted in ngebacot on Maret 30, 2008 by kikie

kenapa

umat yang katanya menganut agama yang paling diridhoi Tuhan,

gampang sekali terprovokasi,
gampang sekali dipanas-panasi,
gampang sekali teralihkan fokusnya,
gampang sekali dikelabui (sementara di sisi lain sangat paranoid terhadap sesama yang sebetulnya gak ada masalah apa-apa dengan mereka. paradoks!),
gampang sekali terpecah-belah, …

sehingga urusan “saudara seiman” yang ditindas nan dizalimi di berbagai belahan bumi lainnya terlupakan akibat provokasi berupa penghinaan, guyonan rasis, atau sejenisnya.
mungkin sambil senada menyalahkan pilihan aliran pemikiran “saudara seiman” yang ternyata beda aliran pemikiran? atau malah batal dianggap “saudara seiman” karena beda aliran pemikiran bahkan dianggap sesat.

toh katanya urusan hati lebih penting dari rasio.

ah
jelas memang aku kurang mengerti.
dan mungkin aku juga memang terlalu sinis …

(pasca menyaksikan reaksi-reaksi atas film “fitna”)

versus lima tahun silam

Posted in personal on Maret 30, 2008 by kikie

kalau aku berhadapan dengan diriku lima tahun yang lalu, mungkin kami akan berdebat hebat. kalau tidak berdebat hebat, mungkin akan bertengkar hebat. sedikit hal non-fisik yang sama antara kami hanyalah bahwa kami sama-sama keras kepala dan sok hebat.

dia mungkin akan luar biasa sedih dan putus asa melihatku kini. karena aku makin menjadi sebagai seorang pendosa dan aku begitu nista kini, di pandangannya. sementara aku merasa jijik dan sia-sia. karena masa belasantahunku terbuang percuma demi kekosongan atas nama fundamentalisme.

mengapa?

Posted in ngebacot on Maret 30, 2008 by kikie

sebenarnya pertanyaannya sederhana saja: mengapa?
eksplorasi ego manusia. ketakutan manusia. kegelisahan manusia. segala yang terpendam.
mengapa?
mengapa manusia bisa begitu keji terhadap sesamanya?
kedengkian?
kelaparan?

Posted in et cetera on Maret 29, 2008 by kikie

keinginanku saat ini sebetulnya sederhana saja.
          menuntaskan bacaan-bacaanku yang tertunda,
          dan memeluknya (bukan bacaan, tapi seseorang).
itu saja.
TAPI KOK REALISASINYA SULIT BANGET YA =))

ngomong-ngomong, rektor itu memang uedyan. aku jadi berprasangka buruk bahwa kebijakan komersialisasi UKM -unit kegiatan mahasiswa- cuma dalih untuk mengekang kebebasan berekspresi dalam kampus. kira-kira UKM yang dinilai tidak aktif bakal diapain ya?
                    rektor komersil. hahaha.

melankolia

Posted in pergolakan batin on Maret 29, 2008 by kikie

terus terang aku cukup sedih juga karena tidak bisa lagi berbagi cerita kesan dan keseharianku dengan keluargaku lagi. juga dengan Tebien. meski sudah dua semester ini mereka semua seakan mengabaikan segala yang kuucapkan, meski juga mereka menyuruhku terus terbuka terhadap mereka.

dulu, merekalah tempatku berbagi. sedikit sekali yang tidak kuceritakan. tapi sekarang, jadi sebaliknya. sedikit sekali yang dapat kuceritakan. aku tidak dapat berbagi cerita mendetail kenapa salah satu gigi seriku sekarang retak. itu contoh kecil saja.

seorang kawan dekatku mungkin akan mengerti hal-hal sederhana atas itu, tapi mungkin juga ia tidak akan menerima yang lebih lanjut. kami masih bisa ngakak bersama. tapi seberapa seringkah itu sekarang, jika dibandingkan dengan dulu waktu aku baru mengenal Debro? soal Debro juga, keadaannya sudah berubah. sulit sekali menemukannya sekarang.

kawan dekatku, Debro, dan aku … semua yang semula rekat dan (mungkin) menjalani masa-masa cukup bahagia bersama, sekarang jadi renggang karena masing-masing jadi supersibuk. kawan dekatku dengan tempat belajarnya yang gila banget itu, Debro dengan keterpurukan pribadinya (banyak masalah yang aku nggak bisa bantu dari dia sekarang. termasuk pertanyaan tradisional keluarga: “kapan kawin?” yang mana jelas aku tidak lagi dapat bantu). aku dengan kampusku yang tentunya lebih sinting dari aku … sialan banget.

seharusnya aku tidak berbohong soal Tebien kepada teman dekatku. pada siapa saja. seharusnya aku tidak menyembunyikan jati diriku kepada siapapun yang kuanggap kawan, sejak dulu. hingga ketika aku terpuruk atas itu, aku tidak dapat berbagi pada siapapun. memendam rahasia yang dihadapi dalam basis harian plus meresap dalam jiwa raga betul, rasanya menyiksa sekali.

tapi bukankah ketersiksaan ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang dialami orang-orang lain yang lebih menderita dariku? sepatutnya aku tidak mengeluh seperti ini. hanya saja aku merasa nelangsa. padahal biasanya aku tidak merasa kesepian meski sehari-harinya aku selalu sendiri.

mungkin lagi PMS. halah!

gugup

Posted in personal on Maret 29, 2008 by kikie

dapatkah dikatakan bahwa tiap orang punya sisi naif dan sisi bijaknya masing-masing? permasalahannya kemudian mungkin adalah, bagaimana proporsinya? lebih berat ke mana? sepertinya sesempurna apapun orangnya, ada sedikit cela darinya. se’ancur’ apapun orangnya, punya sisi bijak juga. kalau flawless gitu rasanya gak seru juga. meski nyaris flawless begitu memikat nan menyilaukan jadinya.

dan sebagai orang yang penuh cela, menghadapi orang yang kelihatannya nyaris flawless membuatku gugup. selain naik motor karena sejujurnya aku punya masalah dengan keseimbangan posisi badan. jadi ingat masa-masa terpuruk tahun lalu.

sebetulnya, akhir-akhir ini aku gugup nyaris setiap saat. tapi wa-jan bilang kalau aku jago akting. begitulah. padahal aku cuma bisa teriak kalau parno. contohnya ketika ada kucing tiba-tiba menggerutu ketika aku masak mie di pagi buta beberapa hari yang lalu. yang menyebabkan aku spontan berteriak seperti mendadak dangdut berhadapan dengan sundal sundel bolong. eh, gak ada hubungannya ya?

adalah menarik, untuk mencoba saling mengerti

Posted in pergolakan batin on Maret 29, 2008 by kikie

“nilai itu dinamis. sepotong tempe kalau diletakkan di atap rumah, dia jadi sesajen dan bernilai sakral. namun kalau sepotong tempe yang sama tadi kita letakkan di piring, maka nilai ada menjadi makanan. dan, kalau tempe yang sama itu kita letakkan di tong sampah, berubah lagi nilainya, tempe tadi bernilai sampah.”

aku tidak akan membahas detail itu, karena terjadi beberapa kesalahan saat aku mengutip tulisan harry roesli tadi. “sesajen” yang tertulis sebagai “senjata”. “sakral” yang tertulis sebagai “sajak”. “ada” yang tertulis sebagai “kita”. sebetulnya apa yang ada di bawah sadarku kini? entahlah, sudah cukup lama sejak terakhir aku benar-benar mengeksplorasinya.

hingga ketika aku mengutip tulisan barusan, aku pun kemudian tersadar bahwa menulis seperti ini adalah metode meditasiku. pantas jika beberapa tahun yang lalu aku cenderung benar-benar marah tiap ada yang menginterupsi kegiatanku ini. beberapa tahun yang lalu? waktu itu semester dua perkuliahanku. sudah beberapa tahun yang lalu? wuaduh.

seperti yang kutulis barusan, cukup lama sejak terakhir aku benar-benar mengeksplorasi bawah sadarku. seringnya eksplorasi bawah perutups. tapi saat ini tidak dapat kulacak. seingatku, terakhir adalah ketika aku berkonflik dengan pimen. mungkin itu ya. aku perlu orang sebebal idiot waras (kan aku yang gila sih!!) itu untuk membuka pintu ke arah alam bawah sadarku. kamu tahu, seperti … bahwa itu perlu stimulasi agar bisa terbuka … kalau kamu tahu maksudku …

padahal awalnya kan bicarain TEMPE, kok jadi bicara TAHU ya?

serius. awalnya ini berangkat dari kesalahan penulisan. kalau mau nurutin katanya Debro lewat buku Sigmund Freud yang pernah dia pinjamkan padaku (jadi kesimpulannya kenapa jadi “katanya Debro” sih? apa karena Tebien dan Pimen tidak pernah meminjamkanku buku? *ditampar*), ini di-trigger oleh keinginan atau kegelisahan di bawah sadarku. lalu apa urusanku dengan senjata dan sajak? “kita” yang barusan kusalahtuliskan itu siapa dan siapa dan siapa serta aku (sekarang jaman irogoto!!)? sungguh aku penasaran.

entah apa aku akan pernah menemukan jawaban atas itu. karena jawaban atas pertanyaan “ada apa denganku waktu itu” saat aku menorehkan drama penerimaan tamu yang bawa makanan di atas laporan fisika dulu itu, belum terjawab hingga kini. padahal itu hampir tiga tahun yang lalu. dan kemungkinan besar bahwa faktor yang dapat menjawab pertanyaan itu sudah atrofi karena tak tersentuh dan tak terurus.

bahkan aku sendiri tidak mengerti apa yang ada di bawah sadarku. apa aku punya kecenderungan untuk jadi schizophrenic? atau apa semua orang punya kecenderungan untuk itu karena mereka semua (mungkin) juga tidak mengerti apa yang ada di bawah sadar mereka?

adalah menarik, untuk mencoba saling mengerti.