sinting

bicara sinting, seorang kawan tadi siang mengemukakan progress kesintingannya dengan beberapa kawan lainnya dengan tenang. katanya, psikiaternya mengatakan bahwa tahap kesintingannya sudah cukup parah. ia mengemukakan hal itu dengan benar-benar tenang, seperti ketika kami semua menggosipkan si kucing kampus yang diisukan tengah hamil. kawan-kawannya juga menanggapi hal itu dengan begitu tenang. benar-benar seperti sedang merumpikan si kucing kampus yang konon sedang hamil itu.

aku jadi iri.

pertama, aku sudah lama penasaran dengan hasil diagnosa yang akan keluar dari seorang psikiater apabila ia mendiagnosaku. aku sudah lama curiga bahwa ada beberapa hal yang betul-betul gila terdapat dalam diriku. sesuatu yang tak dapat kukemukakan pada siapapun kecuali wa-jan karena detailnya adalah rahasia tergelapku. jangan kuatir, aku bukan seorang pembunuh yang psikopat. bukan pula seorang klepto. aku hanya merasa sinting karena suatu hal yang tidak dapat kukemukakan di sini, itu saja. aku tidak merasa risau atas ini karena kurasa ini tidak merugikan orang lain (justru kerisauan orang lain atas kesintingan malah merugikanku!!). ya, aku penasaran sekali dengan hasil diagnosa resmi mengenai kondisi kejiwaanku. tapi setelah bertahun-tahun kecurigaan ini berlangsung, aku belum juga sampai pada konklusi yang memuaskan.

kedua, bahwa sesungguhnya kawanku itu menurutku biasa-biasa saja. apa sih yang sinting dari dia? cara dia mengusili orang menurutku unik, bukan sinting. pola makannya yang luar biasa (dia sering tidak makan berhari-hari tapi tetap chubby) menurutku bukannya sinting. lalu apa? tentunya banyak sekali yang belum aku ketahui darinya, apalagi kami hanya saling kenal sepintas saja dan kebetulan dekat dengan kawan seperjuanganku dalam perkuliahan. meski itu tidak membuatnya segan mempertahankan hobinya mencubit pipiku yang ganteng ini. tapi itu sih nggak sinting, aku kan memang ganteng sih! *plak* mungkin salah banyak dari hal-hal yang tidak kuketahui darinya adalah poin-poin kesintingannya. mungkin? tentu saja!

ketiga, bahwa kawan-kawannya menanggapinya dengan biasa saja. seperti hanya membicarakan tentang persiapan chris john sebelum bertarung di arena tinju. tidak seperti aku ketika mengemukakan asumsiku bahwa mungkin aku memang sinting pada … katakanlah, pimen; hanshan; dan ogi. mereka sama sekali tidak menghargaiku dengan segala kejanggalan yang ada padaku, itulah yang kutangkap dari reaksi mereka. sejujurnya kalaupun aku memang sinting, aku nyaman dengan pola kejiwaanku yang rusuh ini dan tidak mau jadi waras. apalagi kalau jadi waras berarti berhenti menggila dan tidak bisa masuk ke “wonderland” yang penuh hal-hal tak terduga (mengeksplorasi bawah sadarku!!). menjadi waras pasti akan sangat membosankan. aku akan senang berada di sekitar orang-orang yang memang menyadari kesintinganku, tapi tetap bersikap positif dan asik akan itu. karenanya aku agak iri dengan kawanku yang konon sinting itu.

keempat, … apa ya. kok jadi lupa gini. hahahaha. tersapu etanol lagi? hebat kemampuan etanol membersihkan banyak hal. mungkin pikiran itu terdiri dari lipid, sehingga dapat tersapu jika dilewati etanol. berarti konsumsi lipid bisa bermanfaat dalam mengakselerasikan kualitas pikiran. ah … sungguh serius, kukatakan pada engkau yang membaca ini: abaikan saja spekulasi abal-abal ini. jelas tidak benar, ya kan Luca? ya kan Tebien? wahai kalian yang jago kimia (tidak sepertiku yang ngulang biokimia tapi tetap dapat C).

jadi, katanya konsultasi ke psikiater itu kurang lebih minimal 150 ribu rupiah. anjrit. uanjrit. aku jadi tidak mampu berkata-kata lebih banyak soal itu. mungkin diagnosa resmi mengenai kondisi kejiwaanku sudah setaraf dengan menikahi tadashi hasegawa dan melahirkan anak perempuan hasil kegiatan kami. semacam hendak menggapai neptunus dari kali code menggunakan tangan. ah.

bercinta dengan mad hatter saja sudah setaraf dengan hendak menggapai uranus pake tangan dari pasar beringharjo kok. padahal aku kan manusia, bukan rokuro kubi yang bisa seenaknya memanjangkan anggota tubuh manapun sepanjang-panjangnya hingga sampai tujuan tanpa perlu benar-benar berjalan (sayangnya setahuku rokuro kubi hanya ada berupa perempuan, tidak pernah laki-laki *jadi kenapa, kai?*).

untung aku masih punya tangan dan imajinasi yang kuat!!! *ditampar*

Tinggalkan Balasan