lagi-lagi kenapa

kenapa

umat yang katanya menganut agama yang paling diridhoi Tuhan,

gampang sekali terprovokasi,
gampang sekali dipanas-panasi,
gampang sekali teralihkan fokusnya,
gampang sekali dikelabui (sementara di sisi lain sangat paranoid terhadap sesama yang sebetulnya gak ada masalah apa-apa dengan mereka. paradoks!),
gampang sekali terpecah-belah, …

sehingga urusan “saudara seiman” yang ditindas nan dizalimi di berbagai belahan bumi lainnya terlupakan akibat provokasi berupa penghinaan, guyonan rasis, atau sejenisnya.
mungkin sambil senada menyalahkan pilihan aliran pemikiran “saudara seiman” yang ternyata beda aliran pemikiran? atau malah batal dianggap “saudara seiman” karena beda aliran pemikiran bahkan dianggap sesat.

toh katanya urusan hati lebih penting dari rasio.

ah
jelas memang aku kurang mengerti.
dan mungkin aku juga memang terlalu sinis …

(pasca menyaksikan reaksi-reaksi atas film “fitna”)

Tinggalkan Balasan