tamu
(catatan oktober 2006 silam, bulan ramadhan? waktu itu george w. bush mau datang)
dalam kajian sebelum ramadhan, disinggung tentang ihtisab berkaitan dengan puasa yaitu puasa dengan penuh perhitungtan, yaitu berusaha memilih cara berpuasa yang paling disukai Allah. pak ustadz mengibaratkan ini dengan cara kita menerima tamu. katanya, menerima tamu dengan cara yang paling disukai tamu yang bersangkutan. misalnya menyambut tamu dari jawa dengan bahasa jawa, tamu dari sunda dengan bahasa sunda, tamu santri dengan bahasa a la pesantren, dan sebagainya (beliau cuma bahas soal berbahasa lho waktu itu :D).
menyuburkan basa-basi? menurutku, di samping itu kita harus mengcombine usaha menyenangkan tamu dengan cara kita sendiri. rupanya juga, sangat baik kalau penerima tamu itu peka terhadap karakter tamu.
aku benci basa-basi. diam-diam aku sering terjijay-jijay kalau orang berbasa-basi padaku atau kalau aku terbaksa berbasa-basi (tapi pada kenyataannya aku kebiasaan ngomong “permisi, maaf ganggu..” sebelum mulai bicara pada orang. itu basa-basi juga sepertinya ya, haha). aku ingin menyenangkan tamu-tamuku sebisa mungkin dengan caraku sendiri: tanpa banyak basa-basi dan jujur apa adanya. menurutku jujur apa adanya itu keren banget, daripada apa-apa penuh polesan. apalagi kalau polesannya semu. tapi kalau terpaksa ya sudahlah!
satu lagi. memang menyenangkan tamu itu penting. tapi jangan lupa prioritas utama dalam diri / kehidupan kita saat itu. contohnya adalah pada skala nasional: saat negara kedatangan tamu luar negeri yang dianggap orang penting. baru-baru ini aku diingatkan tentang betapa tamu negara dari luar negeri seringkali dikawal ketat dengan full sekuriti, namun di sisi lain rakyat sendiri tidak mendapatkan rasa aman yang harusnya didapatkan lebih dahulu di bawah naungan negara.
ironisnya, justru rakyat kecil tidak merasa aman dan nyaman di bawah naungan negara. kriminalitas merajalela, sebagai akibat dari masalah ekonomi yang buat orang jadi sensi. pelaksana hukum tidak netral, justru memihak yang lebih berduit dan berkedudukan tinggi (maju tak gentar membela yang bayar). pemimpin lupa tugas, malah sibuk memperkaya diri. saat rakyat yang harusnya jadi prioritas utama, justru dipinggirkan demi kepentingan para petinggi & tamu negara.